IHSG Terseret Turun, Emas Cetak Rekor Tertinggi dan Yen Melemah Tajam di Tengah Gejolak Politik Global


Jakarta, PredatorNews.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir tipis ke zona merah pada penutupan perdagangan Rabu (8/10/2025) di tengah tekanan pasar saham Asia yang bergulat dengan gejolak politik di Prancis dan Jepang. Di sisi lain, harga emas menembus rekor baru, sementara yen Jepang jatuh ke level terendah dalam delapan bulan terakhir.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Rabu (8/10/2025) dengan penurunan tipis sebesar 4 poin atau 0,04% ke level 8.166. Pelemahan tersebut dipicu oleh tekanan pada sektor infrastruktur yang merosot hingga 1,04%, meski sektor industri mampu mencatatkan penguatan tertinggi sebesar 2,9%.

Di lantai bursa, saham-saham seperti ESTA, CENT, NTBK, TRIN, AGII, MOLI, dan MORA tercatat sebagai top gainers, sementara CBRE, CUAN, CDIA, TOBA, MINA, BBCA, dan TINS menjadi saham paling aktif diperdagangkan. Aktivitas perdagangan mencatat volume hingga 399,37 juta lot saham dengan nilai transaksi mencapai Rp29,48 triliun.

Tidak hanya di Indonesia, tekanan juga dirasakan oleh bursa saham Asia. Indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang anjlok 0,8% karena investor dihantui ketidakpastian politik di Prancis dan Jepang. Bursa saham di Tiongkok dan Korea Selatan bahkan tutup karena libur panjang.

Kekacauan politik di Prancis makin memicu kekhawatiran investor setelah lima perdana menteri mengundurkan diri dalam kurun waktu kurang dari dua tahun. Ketidakstabilan tersebut menimbulkan keraguan terhadap kesehatan fiskal negara itu. Situasi serupa juga terjadi di Jepang, di mana perubahan politik menyebabkan yen terus melemah hingga 152,40 per dolar AS, level terendah dalam delapan bulan.

Kemenangan Sanae Takaichi sebagai calon perdana menteri baru yang dikenal sebagai pengamat kebijakan fiskal dan moneter turut memicu kekhawatiran pasar. Para pelaku pasar kini mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga tahun ini. Bahkan yen telah melemah lebih dari 3% dalam sepekan, penurunan mingguan tertajam dalam satu tahun terakhir.

"Jika yen mendekati 160 dalam satu atau dua minggu ke depan, kemungkinan besar pemerintah Jepang akan melakukan intervensi valuta asing," ujar Hirofumi Suzuki, Kepala Strategi Mata Uang di SMBC.

Harga emas melonjak menembus rekor baru di atas US$4.000 per ons, terdorong oleh permintaan tinggi terhadap aset safe haven di tengah kekhawatiran politik dan ekonomi global. Penutupan pemerintahan AS yang berkepanjangan juga turut mendorong reli tersebut. Harga emas spot tercatat naik 1% menjadi US$4.021,22 per ons, mencatatkan kenaikan lebih dari 50% sepanjang tahun ini.

“Para pengelola dana dan cadangan devisa global kini mencari lindung nilai terhadap kebijakan fiskal yang sembrono, depresiasi mata uang, dan langkah pemerintah yang tak terduga. Emas menjadi pusat dari pergerakan tersebut,” ujar Chris Weston, Kepala Riset Pepperstone, dikutip dari Reuters.

Di pasar komoditas, harga minyak juga mengalami kenaikan setelah OPEC+ memutuskan menahan peningkatan produksi. Minyak mentah Brent naik 0,96% ke level US$66,08 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik 1,07% menjadi US$62,39 per barel.

“Pasar masih berada dalam ketidakpastian. Di satu sisi ada kekhawatiran kelebihan pasokan, di sisi lain ada keyakinan bahwa peningkatan suplai tidak akan terjadi secepat perkiraan,” ungkap Emril Jamil, Analis Senior LSEG Oil Research.

Sementara itu, pasar saham Eropa bergerak relatif datar di awal perdagangan. Indeks FTSE Inggris dibuka naik 0,16%, sedangkan DAX Jerman dan CAC 40 Prancis bergerak tipis di sekitar level pembukaannya.

Pelemahan IHSG di tengah dinamika global menunjukkan betapa kuatnya pengaruh sentimen eksternal terhadap pasar domestik. Lonjakan harga emas, pelemahan yen, dan naiknya harga minyak mencerminkan tingginya kekhawatiran investor terhadap arah ekonomi dan politik dunia. Dalam kondisi yang serba tidak pasti ini, pelaku pasar disarankan tetap waspada dan mencermati perkembangan kebijakan global yang berpotensi memicu pergerakan signifikan di bursa dalam waktu dekat. (ANW/PN)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.