Purbaya, “Koboi” Baru di Kementerian Keuangan

 

Mercurius 

PREDATOR.News--Baru beberapa pekan menjabat, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sudah menggebrak.

Ia memindahkan sekitar Rp200 triliun dana pemerintah dari kas negara ke bank-bank Himbara, bukan untuk gaya-gayaan, melainkan agar uang negara yang selama ini diam di neraca bisa berputar di sektor riil. 

Langkah ini tak sekadar teknis likuiditas—ia seperti mendorong roda ekonomi dengan cambuk koboi, cepat, tegas, dan tanpa banyak basa-basi. 

Gaya Purbaya berbeda dari pendahulunya, Sri Mulyani Indrawati, yang dikenal hati-hati, cermat, seperti ibu rumah tangga yang mengatur belanja keluarga dengan penuh perhitungan.

Purbaya sebaliknya tampak seperti penunggang kuda di padang luas—kadang kasar, tapi tahu arah. 

Dalam beberapa rapat DPR, gayanya bahkan dianggap “keras kepala”. 

Ia menjawab dengan nada tegas ketika membahas subsidi LPG bersama Bahlil, dan baru-baru ini menolak pembayaran proyek kereta cepat yang dianggap tidak efisien. 

Seorang ekonom senior , menyebut langkah Purbaya sebagai “fenomena baru pasca-era kehati-hatian fiskal Sri Mulyani.” 

Menurutnya, pendekatan ini bisa menyuntik kecepatan ke ekonomi, namun berisiko bila tanpa disiplin pengawasan. “Kebijakan yang terlalu agresif bisa menciptakan euforia kredit jangka pendek, tapi menimbulkan ketimpangan fiskal di akhir tahun,” katanya. 

Kritik tajam disampaikan Ferry Latuhihin kala Menkeu menempatkan uang Rp 200 triliun di bank Himbara.

 Ia menilai langkah ini tidak akan produktif dan berpotensi menjadi beban, karena tidak menjawab masalah utama para pengusaha yakni tingginya suku bunga. 

Namun, bagi sebagian ekonom muda, Purbaya dianggap membawa angin segar pragmatisme: uang harus bekerja, bukan disimpan. 

 Transparansi dan kecepatan menjadi nilai baru di Kementerian Keuangan.

Di sisi lain, keberaniannya bisa menjadi pisau bermata dua—mempercepat pertumbuhan, tapi juga menguji kemampuan negara menjaga disiplin fiskal. 

Dalam waktu singkat, Purbaya menunjukkan bahwa jabatan menteri bukan hanya soal kecakapan teknokrat, tapi juga keberanian moral. 

Dan seperti koboi di film klasik, ia tampak nyaman dengan debu, risiko, dan tatapan tajam para lawan debatnya di Senayan.

Yang belum kita tahu: apakah pelurunya cukup untuk menaklukkan padang ekonomi yang kian kering, atau justru akan tersesat di tengah gurun kebijakan fiskal yang tak kenal ampun. 


Penulis : Mercurius 


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.