PREDATOR.News
Entah karena saya termasuk orang yang gaptek dan kurang memahami istilah algoritma, atau memang karena sebelumnya saya sempat mencari kata kunci Ritchie Blackmore, Deep Purple, beberapa hari ini beranda media sosial saya seperti sengaja membawa saya kembali ke masa lalu.
Saya tidak mengikuti akun-akun musik asing tersebut. Tidak juga merasa sengaja mencari berita dari satu akun tertentu.
Tapi berita tentang Ritchie Blackmore kembali sepanggung dengan Deep Purple muncul beberapa kali di beranda, dari akun yang berbeda-beda.
Mungkin begitulah cara algoritma bekerja.
Ok, that's all.
Tapi ternyata tidak sesederhana itu.
Sebab setiap kali melihat potongan video Ritchie Blackmore berdiri lagi bersama Ian Gillan dan Ian Paice, ada sesuatu yang ikut kembali dalam ingatan saya.
Deep Purple adalah grup musik rock pertama yang membuat saya jatuh cinta kepada musik cadas.
Saat masih duduk di bangku SD, ketika jam istirahat atau sebelum teman-teman masuk kelas, saya dan beberapa teman yang punya kegemaran sama sering berkhayal menjadi musisi.
Saya sendiri tentu saja memilih menjadi Ritchie Blackmore.
Gagang sapu di kelas pun bisa berubah menjadi Fender Stratocaster dalam imajinasi anak SD.
Sederhana memang. Tetapi dari kesederhanaan itulah kecintaan terhadap musik tumbuh.
Saat itu, untuk memiliki sebuah kaset saja bukan perkara gampang. Dengan uang tabungan seadanya, akhirnya saya bisa membeli kaset The Best of Deep Purple.
Indonesia ketika itu juga masih berada dalam persoalan panjang soal pembajakan rekaman. Bahkan pada era Live Aid 1985, Bob Geldof pernah mempersoalkan beredarnya rekaman bajakan konser tersebut di Indonesia.
Bagi anak kecil yang hanya ingin mendengarkan musik, tentu saja semua itu terasa jauh.
Yang saya tahu waktu itu hanya satu: punya kaset Deep Purple, lalu mendengarkannya berulang-ulang.
Tidak pernah menjadi Ritchie Blackmore.
Jangankan memainkan gitar seperti dia, sampai sekarang saya mungkin hanya bisa genjreng-genjreng biasa.
Tetapi musik punya cara sendiri untuk menetap di kepala seseorang.
Puluhan tahun berlalu, kemudian tiba-tiba saya melihat Ritchie Blackmore kembali berdiri bersama Deep Purple.
Setelah lebih dari tiga dekade sejak perpisahan mereka, Blackmore akhirnya kembali berbagi panggung dengan Ian Gillan dan Ian Paice dalam sebuah penampilan yang terasa seperti sesuatu yang dulu hampir mustahil terjadi.
Saya tidak tahu bagaimana hubungan mereka sebenarnya selama puluhan tahun itu.
Yang kita baca selama ini, ada perselisihan, perbedaan karakter dan berbagai cerita di balik perpisahan mereka.
Tetapi malam itu semuanya seperti menjadi kecil.Yang tersisa hanya musik.
Saya kemudian teringat Dave Mustaine. Musisi yang pernah menjadi bagian dari Metallica itu akhirnya bisa berdiri satu panggung bersama mantan rekan-rekannya dalam momen Big Four pada 2010.
Dave Mustaine dan Metallica bahkan terlihat saling berpelukan dan meminta maaf atas persoalan masa lalu.
Bagi saya, momen-momen seperti itu jauh lebih besar daripada sekadar reuni sebuah band.
Ada sesuatu yang manusiawi di sana.
Bahwa sehebat apa pun seseorang, setinggi apa pun ego yang pernah dimiliki, selama masih ada kesempatan untuk berdamai, kenapa tidak?
Musik memang aneh.
Ia tidak mengenal batas negara, agama, bahasa, usia atau jabatan. Orang yang tidak saling mengenal bisa berdiri berdampingan hanya karena menyukai lagu yang sama.
Ritchie Blackmore dan Ian Gillan tidak perlu membuat pidato panjang tentang perdamaian.
Dave Mustaine dan Metallica juga tidak perlu menjelaskan kepada dunia bahwa masa lalu sudah selesai.Cukup naik ke panggung.
Petik gitar.
Bernyanyi.
Lalu musik berbicara sendiri.
Dan mungkin di situlah letak keindahannya.
Kadang saya justru berpikir, dunia terlalu banyak dipenuhi kata-kata.
Orang berbicara tentang persatuan tetapi sibuk mencari perbedaan.
Berbicara tentang perdamaian tetapi masih menyimpan dendam. Di depan rakyat bisa terlihat bermusuhan, tetapi setelah kamera mati mungkin duduk bersama, ngopi, tertawa dan membicarakan hal lain.
Entahlah.
Saya tidak sedang bicara politik kepada siapa pun.
Saya hanya sedang melihat bagaimana para musisi menunjukkan sesuatu yang sederhana: persahabatan dan perdamaian tidak selalu membutuhkan banyak kata.
Kadang cukup sebuah gitar. Sebuah lagu.
Dan keberanian untuk kembali bertemu dengan orang-orang yang pernah meninggalkan luka.
Melihat Ritchie Blackmore kembali bersama Deep Purple, saya seperti bukan hanya melihat sebuah reuni.
Saya seperti melihat kembali diri saya sendiri ketika masih SD, memegang gagang sapu di ruang kelas dan bermimpi menjadi Ritchie Blackmore.
Bedanya, dulu saya hanya bisa berkhayal.
Sekarang, puluhan tahun kemudian, sang gitaris benar-benar kembali memainkan Smoke on the Water bersama Deep Purple.
Dan entah kenapa, hati ini ikut terasa hangat.
Mungkin karena musik memang tidak pernah benar-benar tua.
Begitu juga persahabatan.
Dan mungkin, dendam memang tidak harus dibawa sampai mati.
Mercurius
(Penulis wartawan predator.news.com)




