Depot Sari Patin Kayu Tangi: Tiga Kali Berturut-Turut Menjadi Wajib Pajak Teladan


Rudini Geman dari RM Depot Sari Patin mewakili sang ayah menerima penghargaan wajib pajak daerah terbaik 1 untuk ketiga kalinya di Hotel Fugo, Banjarmasin,Sabtu ,15/10/2025 , (Foto Mercy)

PREDATOR.News--Di salah satu sudut Kayu Tangi, aroma kuah patin yang gurih dan asap dapur yang tak pernah benar-benar padam seperti menjadi penanda bagaimana sebuah rumah makan bisa bertahan lebih dari dua dekade. Namanya Depot Sari Patin Kayu Tangi, tempat makan yang bagi sebagian warga Banjarmasin bukan sekadar kuliner, tetapi bagian dari ingatan keluarga dan perjalanan rasa.

Pada Sabtu, 15 November 2025, nama rumah makan ini kembali disebut di panggung penghargaan bergengsi Wajib Pajak Daerah Terbaik I kategori PBJT Makanan dan Minuman. 

Di ruang pertemuan Hotel Fugo, Duta Mall Banjarmasin, tepuk tangan menggema ketika Sekda Kota Banjarmasin, Ikhsan Budiman, SH., MM., menyerahkan piagam penghargaan yang diterima Rudini Geman, putra pemilik Depot Sari Patin.

Ini bukan penghargaan pertama. Bukan pula yang kedua.

Ini adalah penghargaan ketiga kali berturut-turut.

Sebuah capaian yang hanya mungkin dicapai oleh usaha yang tidak sekadar bertahan, tetapi tumbuh dengan budaya kerja dan disiplin yang jarang terlihat di usaha kuliner rumahan.

Warisan Disiplin dan Integritas dari Dapur Kayu Tangi

Pemiliknya, Geman Yusuf SH MH, bukan hanya bicara tentang kelarisan menu patin atau loyalitas pelanggan.

 Baginya, keberhasilan ini berawal dari hal yang lebih sederhana dan mendasar: kejujuran.

“Sejak merintis usaha ini, saya tanamkan empat prinsip,” kata Geman suatu sore di rumah makan yang sudah ramai sebelum jam makan tiba.

Ia menyebut satu per satu, sambil sesekali melirik aktivitas dapur:

1. Harus jujur, tidak malas.

2. Rajin serta bersemangat.

3. Tenggang rasa dengan sesama pekerja.

4. Ikhlas saat bekerja.

Karyawan di Depot Sari Patin dibagi menjadi empat kelompok kerja, sistem yang ia rancang agar tidak ada yang kewalahan, sekaligus memberi ruang bagi pekerja untuk nyaman dan bertahan lama. “Mereka sudah seperti keluarga,” ujar Geman.

Karena itu pula, rumah makan ini tidak membuka cabang di tempat lain.

“Yang penting kualitas terjaga. Kalau buka banyak cabang, khawatir rasanya berubah,” katanya.

Wartawan predator.news usai wawancara dengan owner RM Depot Sari Patin, Geman Yusuf SH MH (,,Foto Mercy)

Bukan Hanya Soal Makan Enak, Tetapi Tanggung Jawab Pajak

Saat menerima penghargaan, Geman menegaskan bahwa apa yang ia lakukan bukan sekadar rutinitas administratif.

“Sebagai wajib pajak, kami merasa bangga atas pengakuan ini.

Ini bukan hanya prestasi kami, tetapi juga tanggung jawab untuk terus berkontribusi pada daerah.”

Pernyataan sederhana ini seolah menjelaskan bahwa kesuksesan Depot Sari Patin bukanlah hasil keberuntungan, melainkan disiplin panjang yang jarang terlihat di bisnis kuliner lain.

Pemerintah Kota Banjarmasin pun mengapresiasi usaha-usaha yang taat pajak. Dengan kebijakan perpajakan yang lebih transparan dan adil, Pemkot berharap semakin banyak pelaku usaha yang mengikuti langkah seperti Depot Sari Patin: konsisten, tertib administrasi, dan peduli pada pembangunan daerah.

Dari Warga Biasa, Pengusaha, hingga Pejabat

Popularitas Depot Sari Patin telah menjadi cerita tersendiri. 

Pelanggannya tidak hanya warga sekitar, tapi juga pengusaha, kalangan instansi, hingga pejabat tinggi.

Bahkan saat Presiden Joko Widodo berkunjung ke Kalimantan Selatan, pihak pendamping dari Pemprov Kalsel sempat mengarahkan konsumsi menu dari Depot Sari Patin.

Namun Geman tak menjadikan itu sebagai cerita besar.

“Yang penting pelanggan senang dan kami bekerja dengan jujur,” ujarnya.

Tiga Kali Berturut-Turut: Bukan Sekadar Prestasi

Bagi Sari Patin Kayu Tangi, penghargaan ini lebih dari sekadar simbol. Ini adalah pengakuan bahwa konsistensi, ketertiban, dan etos kerja adalah fondasi sebuah usaha yang tahan waktu.

Dengan komitmen tidak membuka cabang, menjaga cita rasa, memperhatikan karyawan, serta konsisten membayar pajak, rumah makan ini seolah memberi pelajaran sederhana:

Bahwa usaha kecil pun bisa menjadi contoh besar—bila dijalankan dengan hati dan integritas.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.