Di tengah arus pemberitaan yang kerap tersandera kepentingan ekonomi maupun politik, pernyataan itu bukan hanya nasihat, melainkan panggilan moral bagi dunia jurnalistik daerah.
Rumiadi seolah mengingatkan, fungsi pers sejati bukan sekadar menyampaikan kabar baik, tetapi menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan kepentingan publik. “Pers harus jadi mitra kritis,” ucapnya—sebuah kalimat sederhana, namun bernas, di tengah realitas bahwa banyak media di daerah masih hidup dari kontrak kerja sama dengan pemerintah daerah maupun lembaga legislatif sendiri.
Dalam situasi seperti itu, keberanian seorang pejabat publik mengingatkan pentingnya kritik justru menunjukkan kedewasaan berdemokrasi.
Ia tidak alergi terhadap masukan, tidak gentar terhadap suara berbeda.
Kutipan terkenal dari seorang sejarawan dan penulis sains fiksi Amerika Serikat Isaac Asimov mengatakan Kekaisaran akan runtuh ketika kritik berhenti"
Begitu pula pemerintahan, tanpa kritik, hanya akan berjalan dalam ruang gema yang meninabobokan.
Kritik yang benar, berbasis data dan disampaikan dengan santun, bukanlah bentuk perlawanan—melainkan cermin kepedulian.
Murung Raya membutuhkan ruang dialog yang jujur antara pemerintah dan media.
Sebab kemajuan tidak lahir dari pujian semata, tetapi dari keberanian bersama melihat dan memperbaiki kekurangan.
Karena itu, pesan Rumiadi seharusnya tidak berhenti di ruang seremonial, melainkan menjadi refleksi kolektif.
Bagi insan pers, ini momentum untuk menjaga idealisme di tengah tekanan ekonomi. Bagi pemerintah daerah, ini tanda bahwa keterbukaan bukan kelemahan, melainkan fondasi kepercayaan publik.
Dan mungkin, dari keberanian mengingatkan inilah, Murung Raya perlahan tumbuh menjadi kabupaten yang bukan hanya maju secara fisik, tetapi juga dewasa dalam berpikir.
Penulis: Mercurius

Tidak ada komentar: