PREDATOR.News, --“Mungkin Tuhan mulai bosan… melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa …”
Oleh : Mercurius
Lirik karya Ebiet G. Ade itu kembali berseliweran di media sosial setiap kali bencana datang.
Dan benar saja, banjir besar yang melanda berbagai wilayah di Sumatra pekan ini—dari Langkat hingga Tapanuli—langsung membuat warganet mengutip bait itu sebagai bentuk keluh kesah.
Seolah-olah, semua ini hanya takdir yang jatuh dari langit.
Padahal, bencana itu tidak pernah datang sendirian.
Ada sejarah panjang di belakangnya. Ada tangan-tangan manusia yang lebih dulu bekerja dibanding hujan.
Di Tapanuli Tengah, seorang bupati bahkan secara terbuka mengakui bahwa banyak kayu ilegal terbawa arus banjir.
Ia menyebut apa adanya, tanpa tedeng aling-aling.
Sebuah kejujuran yang jarang muncul di tengah situasi genting.
Ironisnya, pernyataan itu sempat berbeda dari penjelasan awal Kementerian Kehutanan yang menyebut tidak ada indikasi pembalakan liar.
Namun belakangan diklarifikasi, dan publik kembali bertanya:
Kalau tidak ada kayu ilegal, lalu kayu-kayu gelondongan yang berserakan itu datang dari mana?
Fakta di lapangan berbicara lebih terang daripada konferensi pers.
Banjir memang dipicu oleh hujan ekstrem, tetapi kerusakan lingkunganlah yang mengubah hujan menjadi bencana.
Daerah tangkapan air gundul, hutan dicincang rakus, tebing-tebing dibuka tanpa perhitungan, sungai dangkal oleh sedimentasi.
Lalu, ketika air meluap, kita kembali menengadah, mengeluh pada langit, menyalahkan takdir.
Seolah-olah Tuhan yang tidak adil.
Seolah-olah alam yang tidak bersahabat.
Padahal yang tidak bersahabat adalah kita.
Kita yang membiarkan pembalakan liar berjalan bertahun-tahun.
Kita yang menutup mata terhadap izin-izin tambang yang memakan hutan.
Kita yang menengok ke arah lain saat sungai disempitkan demi parkiran atau ruko.
Kita yang menganggap alam adalah stok bahan baku, bukan ruang hidup.
Dan ketika bencana datang, tangis pun menggema.
Kritik dilayangkan ke pemerintah.
Doa dilangitkan. Tapi akar persoalan tetap sama: kerusakan itu buah dari keserakahan yang tidak pernah dihentikan.
Sumatra bukan sekadar basah oleh hujan—tetapi oleh kelalaian manusia yang enggan belajar dari masa lalu.
Akhirnya, kita pun kembali pada lirik lain yang sama pedihnya“Lestarikan alam hanya celoteh belaka, lestarikan alam mengapa tidak dari dulu oh mengapa....?
Sebuah sindiran yang abadi dari sepenggal lirik tembang Iwan Fals:Isi Rimba tak Tempat Berpijak Lagi
Pada akhirnya, banjir adalah pengingat. Bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan untuk menagih tanggung jawab. Karena sebelum menyalahkan langit, ada baiknya kita bertanya ke bumi—dan pada diri sendiri—apa yang sebenarnya telah kita lakukan.

Tidak ada komentar: