Perang Hampir Pecah, Sejumlah Negara Minta Warganya Tinggalkan Iran


Pesawat-pesawat terparkir di atas kapal induk USS Gerald R. Ford saat tiba di Teluk Souda di pulau Kreta, Yunani, 23 Februari 2026. (Foto Istimewa REUTERS)

PREDATOR.News, JAKARTA – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kian memanas menyusul meningkatnya konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran. Sejumlah negara mulai mengeluarkan peringatan perjalanan dan meminta warga negaranya untuk segera meninggalkan Iran.

Dilansir CNBC Indonesia yang mengutip The Guardian, Pemerintah Australia pada Rabu (25/2/2026) meminta anggota keluarga diplomatnya di Israel dan Lebanon untuk meninggalkan wilayah tersebut. Kementerian Luar Negeri Australia juga menawarkan keberangkatan sukarela bagi keluarga diplomat di Uni Emirat Arab, Qatar, dan Yordania karena situasi keamanan yang disebut memburuk.

Selain Australia, sejumlah negara lain turut mengambil langkah serupa. Siprus, Jerman, India, Polandia, Serbia, dan Swedia meminta warga negaranya meninggalkan Iran. 

Singapura bahkan menyarankan warganya menunda seluruh perjalanan ke negara tersebut. 

Sebelumnya, Brasil juga telah merekomendasikan warganya keluar dari Iran, setelah mengeluarkan peringatan untuk Lebanon.

Langkah ini diambil di tengah pengerahan besar-besaran militer AS di Timur Tengah dan menjelang pembicaraan penting terkait program nuklir Iran. 

Pemerintahan Presiden Donald Trump memperingatkan adanya konsekuensi serius jika Teheran gagal memberikan konsesi signifikan dalam negosiasi.

Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. 

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut desakan Iran untuk tidak membahas rudal balistik sebagai persoalan besar dalam perundingan.

Di sisi lain, pemerintah Iran membantah tudingan tersebut dan menilai Washington menyebarkan informasi yang tidak benar. Teheran menyatakan tetap berharap perundingan dapat menghasilkan kesepakatan baru.

Meningkatnya potensi konflik juga berdampak pada sektor penerbangan. Maskapai Belanda KLM menangguhkan sementara rute Amsterdam–Tel Aviv mulai 1 Maret.

 Induk usahanya, Air France KLM, menyatakan rute tersebut tidak lagi layak secara komersial maupun operasional.

Situasi ini menandakan meningkatnya kewaspadaan global terhadap kemungkinan eskalasi konflik terbuka antara AS dan Iran yang berpotensi mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah.

Sumber: CNBC Indonesia.

Editor. : Iyus 

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.