Pesut Mahakam Mati Lagi, Aktivitas Tongkang Batu Bara jadi Sorotan Tajam

 

       Foto Istimewa 

PREDATOR.News, SAMARINDA— Kematian seekor pesut jantan bernama Upin di Sungai Mahakam kembali mengguncang kesadaran publik. 

Mamalia air tawar langka itu ditemukan mati tersangkut keramba di Desa Sebemban, Muara Wis, Kutai Kartanegara, awal pekan ini.

Kasus tersebut menambah daftar panjang kematian pesut di tahun 2025 — dua individu lain sebelumnya juga dilaporkan mati tanpa dokumentasi jelas di wilayah hulu Mahakam.

Ketua Yayasan Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI), Danielle Kreb, menyebut kondisi ini sebagai peringatan keras atas tekanan besar yang dialami pesut akibat masifnya aktivitas manusia, terutama lalu lintas tongkang batu bara yang kian padat di kawasan konservasi.

“Setiap jam puluhan tongkang melintas di jalur yang seharusnya menjadi habitat utama pesut. Getaran, kebisingan, dan gelombang dari kapal besar itu bisa mengganggu sistem sonar pesut, menyebabkan stres, hingga kematian,” tegas Danielle, Selasa (11/11/2025).

RASI memperkirakan populasi pesut Mahakam kini hanya tersisa sekitar 60 ekor. 

Mereka mendesak pemerintah untuk menghentikan lalu lintas tongkang di anak sungai dan menegakkan moratorium izin baru di kawasan konservasi.

“Kalau aktivitas tambang dan tongkang tidak dibatasi, pesut Mahakam tinggal menunggu waktu punah,” ujar Danielle.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengaku sudah menurunkan tim untuk melakukan investigasi penyebab kematian Upin. 

Namun, pengamat lingkungan menilai langkah itu belum cukup.

“Pemerintah pusat terlalu sering menunggu laporan. Sementara di lapangan, lalu lintas tongkang terus meningkat tanpa kontrol,” kata Hanif Faisol Nurofiq, Menteri LHK, dalam tanggapan resminya yang dikutip dari eksposkaltim.com.

Aktivitas tambang di sekitar Sungai Mahakam memang meningkat signifikan dalam dua tahun terakhir, terutama sejak dibukanya jalur hauling baru menuju muara. 

Selain pesut, berbagai spesies air tawar lain juga terdampak oleh kebisingan, tumpahan batubara, dan pencemaran limbah.

“Pesut Mahakam sudah terlalu lama hidup berdampingan dengan suara mesin. Sekarang saatnya manusia yang mengalah,” tutup Danielle.

Sumber: Dilansir dari eksposkaltim.com

 Editor : Iyus 

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.